Ela Rahmah Laelasari

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Aku Ingin Pulang
Gambr diambil dari https://www.brightinternships.com/blog/how-beat-homesick

Aku Ingin Pulang

Dari kejauhan kudengar sayup-sayup isakan tangis seseorang mendekati ruanganku. Isakan suara itu perlahan-lahan semakin keras terdengar dan memasuki ruanganku. Diaz gadis itu masuk ruanganku dengan diantar dua temannya.

Kusambut Diaz dengan senyuman dan kupersilakan dia untuk duduk disampingku. Perlahan volume tangisannya semakin menurun. Lima menit diawal pertemuan itu ia tak mau membuka mulutnya ia hanya menunduk dan terdiam sambil menutup matanya dengan jari jemarinya yang mungil. Ia duduk seperti seseorang yang sedang duduk di kursi pesakitan . Lima menit diawal aku berharap ia akan bercerita mengapa ia datang dan menangis kepadaku. Namun hingga menit ke 10 ia masih saja menutup matanya dengan kedua belah tangan mungilnya.

“Aku mau pulang “ !, tiba-tiba ia membuka suaranya. Betapa senangnya hatiku karena 10 menit penantianku terjawab.

“ mengapa ingin pulang “? Kukatakan padanya.

Dengan suara yang sedikit tinggi dari semula ia menjawab “pokoknya aku ingin pulang sekarang juga dan mau berhenti sekolah”! ia menatap wajahku

Diaz adalah salah satu murid baru kelas 7 di sekolahku tempat mengajar. Sekolahku itu diperuntukkan bagi siswa mukim atau tinggal diasrama . Kami menyebut murid-muridku itu dengan sebutan santri. dan seluruh muridku adalah santri putri. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Diantara teman-temannya tempat tinggal Diaz adalah tempat yang terdekat. Jarak rumahnya dengan pesantren hanya sekitar 6 KM saja. Sedangkan siswa lain berasal dari berbagai kota yang ada di pulau sumatera, Sulawesi, kalimantan bahkan ada yang berasal dari kota paling timur Indonesia.

Dengan wajah agak kemerahan terpancar kegalauan. Dengan sedu sedan akhirya ia mau membuka mulutnya setelah kupancing dengan kalimat pembuka “ ayuk , miss mau dengar mengapa Diaz menangis”. Murid-muridku memanggilku dengan sebutan Miss. Dengan terbata-bata ia mengatakan bahwa ia ingin pulang, dan minta aku menelepon mamanya sekarang juga.

“ mengapa ingin pulang “? Aku ulang pertanyaannya

“Disini makanannya ga enak”, Ujarnya.

“Yang membuat ga enaknya itu rasanya atau lauknya “? aku menyelidiknya

“Pokoknya ga enak semuanya, aku ga nafsu makan”, ia menjawab dengan suara datar.

“Apakah masakannya terlalu pedas”? ia menjawab tidak.

“ lalu apa “? Tanyaku

“ga apa-apa, pokokya aku ingin pulang saja “ jawabnya

aku pancing lagi ia dengan menanyakan , “Kamu kangen mama-papa ya”? dengan mimik yang terlihat sendu ia membenarkan pertanyaanku. Akhirnya alasan klasik semua santri baru keluar juga dari bibirnya. Ia tidak hanya kangen dengan mama-papanya saja tapi juga ia ingin keluar dari pesantren.

Bukan rahasia umum lagi bahwa diminggu-minggu pertama santri baru biasanya sebagian besar dari mereka belum merasakan kenyamanan. Pada minggu-minggu ini tak jarang aku menjumpai para santri dengan mata yang sembab, bahkan ada diantara mereka yang menangis Bombay.

Galau, malas, sering menangis, merasa kesepian dan tak ada selera makan dirasakan oleh Diaz. Ini merupakan gejala yang lazim disebut dengan homesick. Homesick adalah gejala yang sangat wajar bagi seseorang yang jauh dari orang tua. Para perantau atau orang yang tinggal di asrama atau pesantren kerap merasakan hal ini.

Aku ajak flashback ketika ia wawancara di awal masuk pesantren (kebetulan aku adalah pewawancara ketika ia mendaftar sebagai calon santri baru). Ketika ada pertanyaan alasan mengapa ingin masuk pesantren ia mengatakan bahwa ia ingin mendalami agama. Dan masuk pesantren adalah keinginannya sekaligus juga mendapat dukungan dari kedua orang tuanya. Dia mengatakan “ iya sih aku yang mau sekolah disini, aku ga dipaksa oleh mama dan papa” .

Diaz ini merupakan salah satu santri yang mengikuti test sebanyak dua kali. Karena tes yang pertama gagal saking ingin masuk pesantren setelah dinyatakan gagal ia daftar kembali untuk yang kedua kalinya. Pada test yang kedua inilah ia dapat diterima. . Kuceritakan perjuangannya yang begitu gigih untuk dapat diterima di Pesantren ini. Sayang sekali bila tiba-tiba ingin pulang dan tak ingin meneruskan sekolahnya disini.

“Tadinya aku memang mau sekolah disini" ujarnya. Lalu aku katakana padanya jangan sia-kan perjuangan yang telah diakukannya dengan susah payah ketika wawancara pertama ia mengatakan bahwa tujuan sekolah di pesantren adalah ingin menjadi anak yang sholehah, ta’at agama dan membahagiakan kedua mama-papa bahkan ia mengatakan bahwa ingin memperdalam hafalan qur’an. Kemudian dengan lirih tiba-tiba ia mengatakan bahwa ia ingin mempersembahkan mahkota untuk kedua orang tuanya di syurga kelak. Kalimat itu keluar dari bibir mungilnya. Niat yang sangat mulia batinku, Masya Allah !

Kukatakan padanya bahwa rindu pada orang tua juga tidak hanya dialami oleh ia saja. Hampir semua santri baru disini mempunyai kesamaan perasaan . Lama kelamaan nanti juga akan betah disini. Untuk mendapatkan kesukseskan tidak jarang menemui jalan yang terjal dan berliku. Setiap orang berbeda dalam menempuh jalan yang terjal dan berliku itu . Baginya jalan yang terjal itu adalah tidak kuatnya menahan rindu rumah sehingga menyebabkan ia tak betah dan memutuskan ingin keluar dari pesantren. Kukatakan bahwa semua yang dialaminya bisa dilewati dengan sabar dan sholat.

Sabar yang harus dilakukannya adalah dengan cara menahan diri. Menahan diri dari segala macam bentuk kesulitan, kesedihan, atau menahan diri dari segala sesuatu yang tidak disukai dan dibenci. Berikutnya adalah harus sabar dalam nenuntut ilmu. Salah satunya adalah dengan cara menghadiri halaqoh, dan mengerjakan tugas-tugas sekolah.

Ketika mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari bibirku perlahan tangisnya berkurang, kuusap-usap punggungnya, ku pegang kedua tangannya, ku tatap wajahnya sambil kusunggingkan senyuman. Ia pun membalas senyumanku dengan senyum yang agak dipaksakan . Walaupun senyumanku dibalasnya seperti itu namun terlihat bahwa ia masih tetap ingin pulang. Akhirnya untuk mengobati hatinya aku kakatakan bahwa nanti aku akan menelepon orang tuanya untuk menjemputnya. Mendengar kalimat itu keluar dari mulutku bola matanya terlihat bersinar, dan kulihat ada sunggingan senyum dibibirnya. Senyum dan tatapan mata penuh harapan.

Sebetulnya kata-kataku itu hanya untuk menenangkan hatinya saja. Aku memberikan harapan kosong padanya. Peraturan di pesantren tidak membolehkna santri dibawa pulang sebelum tiga bulan pertama di asrama. Setelah mendengar ucapanku itu ia pamit dari ruanganku karena ia sudah merasa agak lega perasaannya. Ia berpamitan dan mohonn izin mengikuti pelajaran berikutnya. Sebelum meninggalkan ruanganku ia bilang padaku “benar ya miss telpon mama aku “ aku mengangguk seraya bekata padanya bahwa secepatnya aku akan menelepon mamanya. Diakhir percakapanku dengannya kusarankan ia melakukan kegiatan positif dengan cara mengikuti berbagai kegiatan atau ekstra kurikuler, banyak beribadah, dan mengingatkan kembali niat awalnya ketika mau sekolah di pesantren.

Ketika bel berbunyi panjang pertanda kegiatan belajar usai, ia menghampiriku ia menagih janjiku, “ gimana miss kapan mama jemput aku ?” deg ! jantungku berdegup, jawaban apa yang mesti aku sampaikan padanya ? aku sama sekali tidak menelepon mamanya, dan itu tak mungkin aku lakukan. Akhirnya untuk menutupi kegugupanku kukatakan padanya “ oh miss belum telepon mamamu karena tadi banyak pekerjaan sekolah yang harus diselesaikan, nanti setelah tugas sekolah selesai miss akan telpon mamamu, , “ . Ia mengganguk sambil bergegas lari menyusul temannya yang sudah meninggalkannya pulang ke asrama.

Sehari kemudian tanpa sepengetahuannya aku panggil dua teman sekamarnya. aku ajak menyuruh mereka agar mengajak Diaz bermain, mengobrol, mengajak makan bareng ke dapur dan melakukan kegiatan bersama-sama. Aku berharap dengan seringnya Diaz melakkan aktifitas bersama teman-temannya akan berdampak baik padanya sehingga ia merasakan kenyamanan diantara teman-teman dan lingkungan sekitar sehingga keinginan untuk pulang akan berangsur-angsur berkurang.

Hari berganti hingga sampai hari ketujuh ketika kulihat dari kejauhan dan senyap-senyap kuperahatikan wajahnya sudah tidak murung seperti sebelumnya. Diaz mengikuti saranku ketika diakhir pertemuan denganku itu. Ia menenggelamkan diri melalui berbagai macam aktifitas di asrama.

Beberapa minggu aku menghindar bertemu dengannya dengan maksud memberi kesempatan padanya untuk banyak berinteraksi dengan teman-temannya. Bila dia banyak berinteraksi dengan temn-temannya berharap lama-kelaman pertanyannya padaku yang menjadi bebanku itu tak akan ditanyakan lagi. Hari-hari diluar sekolah, Diaz mengikuti ekskul Marching Band. Dalam ekskul ini selain mengembangkan diri dalam bermusik, para santri dilatih untuk memiliki mental yang kuat dan memiliki disiplin tinggi. Sekarang Diaz sudah berada di kls 9 . Tentunya ia telah menjalani hari-harinya yang penuh terjal dan berliku dengan kuat. Maafkan Diaz, dulu aku pernah berbohong padamu. Aku tak pernah menelepon mamamu untuk menjemputmu.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bagus Bu

10 Oct
Balas

Terimakasih bu Nining

10 Oct

Terimakasih masukannya pak Har.. iya nanti saya perbaiki lagi tanda bacanya. Ibu tiri yang baik hatinya..hehe

09 Oct
Balas

Sajian alurnya apik. Lanjutkan bu @Ela

09 Oct
Balas

Terimakasih pak Iyus..

09 Oct

Mantab Bu... seneng baca ceritanya. Punten, hanya memberi masukan, tanda bacanya untuk dialog, belum pas. Dari pada dimarahi ibu Tiri...hehehe. Semangat!!!

09 Oct
Balas

Keren bu..saya pengen bisa kayak ibu.

10 Oct
Balas

Terbalik pak hehe... saya yang mesti belajar sama pak yus

10 Oct
search